TEKNIK MENULIS BUKU BEST SELLER (Resume Materi 20)
Teknik Menulis Buku Best Seller
Judul : Teknik Menulis Buku Best Seller
Penyusun : Mudma Nurdin
Resume : 20
Hari/Tanggal : Jumat, 19 September 2025
Narasumber : Akbar Zaenuddin, MM.,MNE
Moderator : Edmu Yulfizar Abdan Syakura,Gr.,M.Pd
Setiap penulis pasti pernah bermimpi dan membayangkan jika suatu saat bukunya akan diterima di hati masyarakat, terpajang di rak toko besar, dan diserbu pembaca. Namun untuk menggapai semua itu tidaklah semudah apa yang kita bayangkan. Jalan yang ditempuh pasti tidak mudah banyak rintangan atau hambatan untuk sampai di titik itu sehingga membuat penulis terkadang berhenti di tengah jalan.
Apa kategori buku disebut best seller? Apakah karena buku tersebut dibaca oleh banyak orang? Jika ya berapa banyak orang yang harus membacanya sehingga dikategorikan best seller? Jadi Kategori best seller biasanya ditentukan oleh penerbit. Tidak ada standar yang pasti. Ada yang kalau buku sudah terjual 5.000, 10.000, 15.000 eksemplar. Kalau Penerbit Gramedia, biasanya kalau sudah terjual 25.000 eksemplar.
Mari kita belajar dari pengalaman Akbar Zaenuddin. Beliau mulai menulis tahun 2009 sampai saat ini sudah berhasil menulis 17 buku termasuk salah satu buku yang sangat fenomenal yaitu Man Jadda Wajada. Beliau berhasil menyelesaikan buku ini dalam waktu satu setengah tahun dan sampai saat ini buku tersebut sudah dicetak 13 kali dan telah beredar 55.000 eksemplar. Buku ini diterbitkan oleh penerbit terbesar di Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, sekarang disebut Gramedia saja. Perajalananya dalam menulis dimulai saat beliau duduk di bangku SMA di Pesantren Gontor dimana setiap beliau menulis artikel untuk majalah dinding. Dan saat ini beliau aktif menulis berbagai buku yang bergenre motivasi dan pengembangan diri.
Menulis buku best seller bukanlah mimpi kosong, atau sekedar Khayalan penulis. Setiap orang bisa melakukannya asalkan punya tekad, kesungguhan, dan langkah yang jelas. Akbar Zaenuddin percaya betul dengan ungkapan: “Man Jadda Wajada” siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil. Kalimat inilah yang menjadi panduan hidupnya termasuk dalam dunia menulis. Dan sekarang, mari kita gunakan huruf-huruf dari kata MAN JADDA sebagai jalan singkat menuju lahirnya sebuah buku best seller.
M — Mulai dari Sekarang
Banyak orang ingin menulis buku, tapi selalu menunda. Mereka berkata, “Nanti kalau ada waktu luang, saya akan menulis.” Sayangnya, waktu luang itu jarang datang. Kesibukan selalu ada, dan kalau kita menunggu momen sempurna, maka tulisan itu tidak akan pernah lahir. Kunci utamanya sederhana: jangan tunggu waktu, tapi ciptakan waktu.
Contoh nyata, Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi dengan cara sederhana. Ia menulis sebagian besar kisahnya di sela-sela waktunya, bahkan dengan komputer yang hampir rusak. Kalau beliau menunggu waktu luang yang panjang, mungkin novel yang menginspirasi jutaan orang itu tak akan pernah terbit. Jadi, ambil langkah kecil hari ini. Tulis satu paragraf di buku catatan, ketik satu halaman di laptop, atau rekam ide dengan ponsel. Ingatlah, buku setebal 200 halaman itu lahir dari satu kalimat pertama. Menulis adalah keterampilan. Semakin banyak kita berlatih maka akan semakin mahir kita dalam menulis. Jadi latihan lah dengan penuh disiplin setiap hari maka lama-lama tulisan kita akan semakin bagus. Kunci utama dari buku yang potensial terjual bagus adalah karena tulisan kita bagus. Dan tulisan bagus tidak terlahir begitu saja, tetapi hasil dari latihan yang panjang. Belum terlambat asal dimulai dari sekarang. Disiplin menulis setiap hari. Kapan saja. Mulai dengan 10 sampai 15 menit tidak apa-apa. Yang penting konsisten setiap hari
A — Atur Ide dan Outline
Menulis tanpa arah itu seperti berkendara tanpa peta. Kita bisa berputar-putar, kehilangan tenaga, dan tidak sampai tujuan. Karena itu, penting sekali membuat outline sebelum mulai menulis. Outline adalah kerangka besar yang memandu kita dari awal hingga akhir. Misalnya, kamu ingin menulis buku motivasi tentang manajemen waktu. Buatlah bab-bab seperti: (1) Mengapa waktu berharga, (2) Kesalahan umum dalam mengatur waktu, (3) Teknik sederhana manajemen waktu, dan (4) Inspirasi tokoh sukses. Dengan begitu, setiap kali duduk menulis, kamu tidak bingung harus mulai dari mana. Penulis profesional dunia pun menggunakan outline. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, membuat outline detail untuk tujuh bukunya bahkan sebelum novel pertama diterbitkan. Kerangka itu membuat ceritanya konsisten dan kuat hingga akhir.
Ada dua mazhab dalam menulis. Yang pertama adalah dengan outline dan yang kedua adalah tanpa outline. Dua-duanya tidak ada yang salah karena gaya menulis setiap orang berbeda-beda. TApi lebih baik jika outline terlebih dahulu yakni membuat poin-poin penting yang akan menjadi pijakan penulisan.
N — Nikmati Proses Menulis
Menulis sering dianggap beban. Padahal, jika kita menikmatinya, menulis bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Jangan selalu berpikir tentang target halaman atau kapan bukumu selesai. Fokuslah menikmati setiap kalimat yang keluar dari pikiranmu. Contoh sederhana, banyak penulis novel mengaku menemukan kebahagiaan ketika larut dalam dunia tokoh-tokoh ciptaannya. Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi sambil membayangkan wajah kawan-kawan masa kecilnya. Ketika menulis dengan rasa senang, tulisan itu akan mengalir dengan lebih jujur dan hangat. Jangan terlalu keras pada dirimu. Jika bosan, berhentilah sejenak. Jika sedang semangat, tulis lah lebih banyak. Jadikan proses menulis sebagai sahabat, bukan musuh.
J— Jaga Konsistensi
Kebanyakan penulis berhenti di tengah jalan karena kehilangan konsistensi. Semangat besar di awal sering hilang saat menemui kebosanan. Padahal, keberhasilan menulis buku bukan ditentukan oleh ledakan semangat sesaat, tapi oleh disiplin kecil yang berulang.
Contohnya, Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-Ayat Cinta) menceritakan bahwa ia meluangkan waktu menulis secara rutin setiap hari. Ia tidak menunggu “mood”, karena mood itu datang dan pergi. Justru dengan rutinitas, ide-ide segar lebih mudah muncul. Tips praktis: tentukan target sederhana, misalnya 500 kata sehari. Jika dilakukan konsisten, dalam 4 bulan kamu sudah punya naskah setebal 60.000 kata, setara sebuah buku penuh. Konsistensi kecil bisa menghasilkan karya besar. Konsistensi itu ibunya kualitas. Kalau kita konsisten kualitas tulisan kita akan semakin baik.
A — Ambil Inspirasi dari Sekitar
Inspirasi menulis tidak selalu datang dari hal-hal besar. Justru seringkali lahir dari pengalaman sehari-hari yang sederhana. Pengalaman pribadi, kisah orang lain, atau peristiwa di sekitar bisa menjadi bahan tulisan yang menyentuh. Contohnya, Tere Liye banyak menulis kisah dari pengalaman masa kecilnya di Sumatera. Sederhana, tapi karena ditulis dengan jujur, ceritanya bisa menyentuh hati jutaan pembaca. Begitu juga dengan buku catatan harian Diary of a Wimpy Kid, yang idenya muncul dari keseharian seorang anak sekolah. Cobalah mulai memperhatikan sekitar: obrolan di warung kopi, perjuangan tetangga, atau pengalaman pribadi saat jatuh bangun. Dari situ, kamu bisa menemukan cerita yang autentik dan dekat dengan pembaca.
Kita menulis itu bukan mengawang-awang. Jauh lebih baik kalau kita menulis itu terinspirasi dari kejadian atau kehidupan nyata sekitar kita. Sehingga tulisan kita itu seakan-akan ngobrol dengan pembaca. Bukan kita berbicara sendiri lewat tulisan. Kalau kita seakan-akan bercerita dengan pembaca, maka mereka akan merasa lebih enak untuk membaca buku kita. Itu kunci penting agar tulisan kita bisa lebih komunikatif.
D-Dengarkan Kebutuhan Pembaca
Buku best seller lahir bukan hanya dari keinginan penulis, tapi dari kebutuhan pembaca. Penulis yang bijak tahu bahwa menulis itu bukan sekadar memuaskan dirinya, tapi juga memberi solusi dan manfaat bagi orang lain. Contoh, buku Chicken Soup for the Soul laris di seluruh dunia karena menjawab kebutuhan orang: mereka ingin kisah inspiratif yang singkat, nyata, dan menenangkan hati. Di Indonesia, buku La Tahzan juga menjadi best seller karena menyentuh keresahan banyak orang yang sedang galau.Sebelum menulis, tanyakan: “Masalah apa yang sedang dialami masyarakat? Apa solusi yang bisa saya tawarkan?” Jika bukumu menjawab kebutuhan pembaca, mereka akan mencarinya, membacanya, dan merekomendasikannya ke orang lain.
D — Disiplin Revisi
Naskah pertama adalah bahan mentah. Buku yang baik lahir dari revisi yang telaten. Revisi bukan berarti tulisanmu jelek, tapi justru tanda keseriusanmu untuk memberikan yang terbaik bagi pembaca. Contohnya, Ernest Hemingway, penulis besar dunia, mengaku sering merevisi karyanya berkali-kali. Bahkan ada naskah yang direvisi hingga 39 kali sebelum akhirnya dipublikasikan. Begitu juga dengan para penulis di Indonesia, mereka biasanya menghabiskan waktu lebih banyak untuk revisi daripada menulis draft pertama.Jangan malas untuk membaca ulang, memperbaiki kalimat, menghapus yang tidak perlu, atau menambahkan yang penting. Ingat, kualitas buku terletak pada revisinya, bukan hanya pada ide awalnya. Apa yang direvisi dari tulisan kita? Informasi tanggal, tahun, peristiwa, Ejaan dan kaidah, Istilah bahasa asing, dan Penyelarasan gaya tulisan keseluruhan, mesti sama dari awal sampai akhir.
A — Aktif Promosi
Buku best seller tidak hanya ditulis, tapi juga diperkenalkan. Jangan malu atau merasa sungkan untuk mempromosikan karya sendiri. Ingat, jika kamu tidak memperkenalkan bukumu, siapa lagi?Contoh, banyak penulis muda menggunakan media sosial untuk mengenalkan bukunya. Raditya Dika sukses menjadikan blog pribadinya sebagai jalan menuju buku best seller. Ia aktif berbagi cerita, berinteraksi dengan pembaca, hingga akhirnya bukunya laris di pasaran. Gunakan semua saluran: media sosial, komunitas, seminar, bahkan percakapan sehari-hari. Promosi bukan sekadar menjual, tapi berbagi manfaat dari bukumu. Semakin banyak orang tahu, semakin besar peluang bukumu menjadi best seller.
Menyusun langkah kecil dalam menulis
Sebagai penulis kita tidak perlu khawatir dengan budaya literasi masyarakat Indonesia yang rendah, yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kualitas tulisan dengan lebih konsentrasi meningkatkan kemampuan menulis, jika tulisan kita baik maka akan banyak yang mencari tulisan kita.
a. Langkah yang perlu ditempuh untuk melatih kemampuan menulis:
1. Buat target 1 bulan mau menulis berapa artikel. Bisa satu artikel, dua artikel, tiga atau empat artikel.
2. Alokasikan waktu minimal 15 sampai 30 menit setiap hari untuk menulis. Besok pagi siang sore atau malam.
3. Pada jam yang sudah ditentukan, menulislah dan jangan kerjakan pekerjaan yang lain. Kalau terpaksa mengerjakan pekerjaan yang lain, waktu yang kita alokasikan untuk menulis harus kita ganti hari itu juga.
4. Buat target kapan buku Bapak mau terbit. Kalau sudah pernah menulis buku, dalam satu tahun targetkan berapa buku yang akan terbit. Tulis target itu dan tempelkan. Kita akan terbiasa melihat target dan bersemangat untuk terus menulis.
5. Jangan pikirkan apakah tulisan kita bagus atau tidak. Menulis saja setiap hari. Kalau kita sudah membiasakan diri menulis setiap hari, percayalah 1 tahun ke depan tulisan akan bagus. Kuncinya, setiap hari menulis.
b. Cara mebangun personal Branding lewat tulisan
1. Menulis lah bidang yang kita suka atau kita kuasai.
2. Kita betul-betul mendalami bidang tersebut sampai benar-benar menjadi ahli.
3. Setiap hari, kaitkan pengetahuan yang kita dapatkan dengan peristiwa-peristiwa aktual yang ada dan terjadi. Lalu buatlah tulisan yang terkait dengan peristiwa tersebut yang memuat opini kita.
4. Kirimkan tulisan-tulisan tersebut redaksi atau blog.
5. Kalau bisa, tema yang kita tuliskan itu konsisten dan fokus pada satu bidang. Akhirnya orang mengenal kita sebagai ahli pada bidang tersebut.
c. Cara menumbuhkan percaya diri dalam menulis.
1. Latihan menulis setiap hari.
2. Apa yang kita sudah tuliskan upload di blog atau kirim ke redaktur.
3. Bergaul dengan komunitas penulis.
4. Cari mentor menulis yang akan mengarahkan tulisan kita. Mentor ini sangat penting agar membantu motivasi dan mengarahkan tulisan kita. Sampai sekarang Saya masih punya mentor menulis.
Dalam menulis seringkali kita dihampiri oleh excusistis yaitu kebiasaan menciptakan alasan dan dalih untuk menghindari menulis yang pada akhirnya menghambat pencapaian tujuan menulis. Oleh karena itu perlu kita menyadari dan mengenali adanya virus excusistis yakni sering mencari alasan misalnya sibuk, hambatan mental, pola pikir negatif, dan menghindari tanggung jawab. Jadi agar tetap konsisten dalam menulis maka berpegang teguh lah pada prinsip "kerjakan sekarang"

Komentar
Posting Komentar